Cara Mencatat Retur Penjualan dan Retur Pembelian di Pembukuan UMKM: Panduan Jurnal Lengkap
Tutorial Akuntansi

Cara Mencatat Retur Penjualan dan Retur Pembelian di Pembukuan UMKM: Panduan Jurnal Lengkap

Panduan lengkap jurnal akuntansi retur penjualan dan pembelian untuk UMKM: debit-kredit, koreksi HPP, dampak PPN, dan contoh perhitungan nyata.

FJFirstJournal Editorial·29 Mei 2026·11 menit baca
retur penjualan jurnal akuntansicara catat retur barang UMKMjurnal retur pembelianpencatatan retur toko online

FirstJournal

Akuntansi bisnis jadi lebih mudah.

Software accounting AI-first untuk UMKM Indonesia. Buku besar, faktur, laporan keuangan — semua dalam satu platform. Gratis selamanya.

Tiga barang dikembalikan pelanggan hari ini — Siti Rahayu, pemilik toko fashion online di Shopee dengan omzet Rp 1,2 miliar per tahun, langsung refund ke buyer. Tapi di pembukuannya? Ia hanya coret angka di spreadsheet dan lanjut. Enam bulan kemudian, laporan laba ruginya menunjukkan margin 34% — padahal estimasi riilnya harusnya 28%. Selisih 6% itu bukan karena bisnisnya tumbuh. Itu karena retur tidak pernah dicatat dengan benar.

Pencatatan retur penjualan dan retur pembelian adalah salah satu blind spot terbesar pembukuan UMKM Indonesia. Bukan karena sulit — tapi karena mayoritas panduan yang beredar fokus pada SOP operasional: form retur, kebijakan pengembalian, batas waktu klaim. Tidak ada yang menjelaskan jurnal debit-kreditnya, koreksi HPP-nya, atau dampaknya ke laporan keuangan. Artikel ini mengisi celah itu.


Mengapa Retur yang Tidak Dicatat Bisa Merusak Laporan Keuangan Anda

Cara Mencatat Retur Penjualan dan Retur Pembelian di Pembukuan UMKM: Panduan Jurnal Lengkap

Sebelum masuk ke teknis jurnal, penting dipahami dulu mengapa retur bukan sekadar "transaksi balik."

Ketika Anda mencatat penjualan Rp 500.000, dua hal terjadi sekaligus: pendapatan naik Rp 500.000, dan Harga Pokok Penjualan (HPP) keluar sebesar — misalnya — Rp 320.000. Artinya laba kotor bertambah Rp 180.000. Ketika barang itu dikembalikan, kedua entri itu harus dibalik. Jika hanya pendapatan yang dikoreksi (refund uang ke pelanggan) tapi HPP tidak dikembalikan ke persediaan, Anda akan mencatat kerugian ganda: pendapatan berkurang tapi HPP tetap keluar.

67%

UMKM yang tidak memiliki prosedur pencatatan retur dalam pembukuan mereka

Menurut Pedoman Akuntansi UMKM yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), transaksi retur harus diperlakukan sebagai koreksi atas transaksi asal, bukan transaksi baru yang berdiri sendiri. Prinsip ini juga selaras dengan PSAK 72 tentang pengakuan pendapatan — di mana pembatalan atau pengurangan kewajiban kinerja (performance obligation) mengharuskan entitas membalik pendapatan yang telah diakui sebesar nilai barang yang dikembalikan.

So what? Jika Anda hanya memproses refund di rekening atau marketplace tanpa jurnal koreksi, laporan laba rugi Anda akan overstated — dan keputusan bisnis seperti diskon, harga jual, atau ekspansi produk akan didasarkan pada angka yang salah.


Jurnal Retur Penjualan: Dua Skenario yang Harus Anda Kuasai

Kembali ke cerita Siti. Ia menjual dress batik seharga Rp 350.000 (HPP Rp 210.000). Pelanggan mengembalikan barang karena ukuran tidak sesuai. Ada dua kemungkinan: refund tunai (atau transfer langsung) versus kredit nota untuk pembelian berikutnya.

Skenario 1: Retur Penjualan Tunai (Pelanggan Dapat Uang Kembali)

Ini skenario paling umum di toko online. Pelanggan sudah bayar, barang dikembalikan, Anda refund via transfer atau saldo marketplace.

Jurnal saat penjualan awal dicatat:

AkunDebitKredit
Kas / BankRp 350.000
PenjualanRp 350.000
HPPRp 210.000
Persediaan BarangRp 210.000

Jurnal koreksi saat retur diterima:

AkunDebitKredit
Retur & Potongan PenjualanRp 350.000
Kas / BankRp 350.000
Persediaan BarangRp 210.000
HPPRp 210.000
Akun "Retur & Potongan Penjualan" adalah akun kontra-pendapatan — artinya ia mengurangi total penjualan di laporan laba rugi, bukan dicatat sebagai beban. Jangan langsung debit ke akun Beban, karena ini akan mendistorsi gross margin Anda.

Skenario 2: Retur Penjualan Kredit (Nota Kredit / Credit Note)

Pelanggan tidak minta uang kembali — ia dapat kredit untuk pembelian berikutnya. Di konteks B2B atau reseller, ini lebih umum.

Jurnal koreksi saat retur diterima (penjualan awal secara kredit):

AkunDebitKredit
Retur & Potongan PenjualanRp 350.000
Piutang UsahaRp 350.000
Persediaan BarangRp 210.000
HPPRp 210.000

Di sini, piutang usaha yang sudah tercatat (karena penjualan kredit) dikurangi sebesar nilai retur — bukan kas yang keluar.

So what? Pilihan antara skenario 1 dan 2 bukan hanya soal operasional — ia menentukan akun mana yang terpengaruh. Salah memilih akun berarti posisi kas dan piutang Anda di neraca menjadi tidak akurat, dan rekonsiliasi akhir bulan akan selalu bermasalah.


Jurnal Retur Pembelian: Ketika Anda yang Mengembalikan Barang ke Supplier

Sisi lain dari retur adalah ketika Anda sebagai pembeli mengembalikan barang ke supplier — misalnya karena barang cacat, salah spesifikasi, atau kelebihan stok. Ini disebut retur pembelian (purchase return).

1 dari 4

transaksi pembelian UMKM fashion dan elektronik berakhir dengan retur parsial ke supplier, menurut estimasi rata-rata industri ritel Indonesia

Sumber: Katadata Insight Center (2023)

Anggap Siti membeli 50 pcs dress dari supplier seharga Rp 10.500.000 (Rp 210.000/pcs) secara kredit. Setelah diperiksa, 5 pcs cacat dan dikembalikan.

Jurnal saat pembelian awal:

AkunDebitKredit
Persediaan BarangRp 10.500.000
Utang UsahaRp 10.500.000

Jurnal koreksi saat retur ke supplier:

AkunDebitKredit
Utang UsahaRp 1.050.000
Retur & Potongan PembelianRp 1.050.000

Nilai retur: 5 pcs × Rp 210.000 = Rp 1.050.000

Akun "Retur & Potongan Pembelian" adalah akun kontra-pembelian yang mengurangi total pembelian bersih di laporan laba rugi — efeknya adalah HPP turun, sehingga laba kotor naik.

Jika retur ke supplier dilakukan secara tunai (supplier refund via transfer):

AkunDebitKredit
Kas / BankRp 1.050.000
Retur & Potongan PembelianRp 1.050.000

So what? Banyak UMKM yang menganggap retur ke supplier sebagai "barang keluar saja" tanpa koreksi utang atau HPP. Akibatnya, utang usaha tercatat lebih besar dari yang seharusnya, dan HPP terlihat lebih tinggi — sehingga margin laba kotor tampak lebih kecil dari kenyataan.


Dampak Retur ke HPP dan Laporan Laba Rugi: Perhitungan Lengkap

Mari satukan semua komponen di atas ke dalam gambaran laporan laba rugi yang realistis.

Asumsi data toko Siti (1 bulan):

  • Total penjualan bruto: Rp 85.000.000
  • Retur penjualan: Rp 7.350.000 (21 transaksi retur)
  • Total pembelian: Rp 52.000.000
  • Retur pembelian: Rp 2.100.000
  • Persediaan awal: Rp 15.000.000
  • Persediaan akhir: Rp 18.200.000

Perhitungan Laporan Laba Rugi Kotor:

Penjualan Bersih = Penjualan Bruto - Retur Penjualan
                 = Rp 85.000.000 - Rp 7.350.000
                 = Rp 77.650.000

Pembelian Bersih = Total Pembelian - Retur Pembelian
                 = Rp 52.000.000 - Rp 2.100.000
                 = Rp 49.900.000

HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih - Persediaan Akhir
    = Rp 15.000.000 + Rp 49.900.000 - Rp 18.200.000
    = Rp 46.700.000

Laba Kotor = Penjualan Bersih - HPP
           = Rp 77.650.000 - Rp 46.700.000
           = Rp 30.950.000

Gross Margin = Rp 30.950.000 / Rp 77.650.000 = 39,9%

Bandingkan jika retur tidak dicatat sama sekali:

Penjualan "Bersih" = Rp 85.000.000 (tidak dikurangi retur)
HPP = Rp 15.000.000 + Rp 52.000.000 - Rp 18.200.000 = Rp 48.800.000
Laba Kotor "Semu" = Rp 36.200.000
Gross Margin "Semu" = 42,6%

Selisihnya 2,7 poin persentase — cukup signifikan untuk membuat keputusan penetapan harga yang keliru.

Retur yang tidak dicatat bukan sekadar masalah pembukuan — ia adalah distorsi yang membuat pemilik bisnis percaya margin mereka lebih sehat dari kenyataan, lalu mengambil keputusan ekspansi yang salah waktu.


Aspek PPN untuk Retur: Apa yang Perlu Diperhatikan PKP

Bagi UMKM yang sudah menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP), retur memiliki implikasi PPN yang tidak bisa diabaikan.

Berdasarkan PMK Nomor 65/PMK.03/2010, retur Barang Kena Pajak (BKP) yang dikembalikan oleh pembeli dapat mengurangi Pajak Keluaran penjual dan Pajak Masukan pembeli — dengan syarat diterbitkan nota retur yang sah. Nota retur ini harus memuat:

  1. Nomor urut nota retur
  2. Nomor dan tanggal Faktur Pajak yang diretur
  3. Nama, alamat, dan NPWP pembeli dan penjual
  4. Jenis barang, jumlah, dan nilai retur
  5. PPN yang dikreditkan kembali
  6. Tanda tangan pembeli
Jika nota retur tidak diterbitkan dengan benar, DJP dapat menolak pengkreditan Pajak Masukan atas retur tersebut. Artinya PPN yang sudah dibayar tidak bisa dikembalikan, dan beban pajak Anda menjadi lebih besar dari yang seharusnya.

Implikasinya di jurnal (untuk PKP yang membeli dan meretur barang senilai Rp 1.050.000 + PPN 11%):

Saat pembelian:

AkunDebitKredit
Persediaan BarangRp 1.050.000
PPN MasukanRp 115.500
Utang UsahaRp 1.165.500

Saat retur:

AkunDebitKredit
Utang UsahaRp 1.165.500
Retur & Potongan PembelianRp 1.050.000
PPN MasukanRp 115.500

So what? Jika Anda PKP dan sering bertransaksi dengan supplier yang juga PKP, pastikan setiap retur diikuti dengan nota retur resmi — bukan hanya konfirmasi WhatsApp atau email. Tanpa dokumen yang sah, koreksi pajak Anda tidak akan diakui.


Kesalahan Umum Pencatatan Retur yang Wajib Dihindari

Berdasarkan pola pembukuan UMKM yang umum ditemukan di lapangan, berikut kesalahan yang paling sering terjadi:

  1. Mencatat refund sebagai beban operasional — Refund ke pelanggan bukan "biaya" dalam arti beban operasional. Ia adalah kontra-pendapatan. Jika dicatat sebagai beban, gross margin Anda akan terlihat buruk padahal itu bukan masalah efisiensi operasional.

  2. Tidak membalik HPP saat menerima barang retur — Barang yang kembali ke gudang harus masuk kembali ke persediaan. Jika tidak, persediaan di neraca akan understated dan HPP overstated.

  3. Menggabungkan retur dan diskon dalam satu akun — Retur penjualan dan diskon penjualan adalah dua akun kontra yang berbeda. Diskon adalah pengurangan harga di awal transaksi; retur adalah pembatalan transaksi yang sudah selesai.

  4. Tidak membuat nota retur untuk PKP — Fatal dari sisi pajak. Lihat penjelasan di atas.

  5. Mencatat retur di bulan yang salah — Retur harus dicatat di periode yang sama dengan penjualan asal (matching principle), atau di bulan retur diterima jika lintas bulan — dengan disclosure yang jelas.

  6. Tidak memverifikasi kondisi barang sebelum mencatat ke persediaan — Barang rusak yang diretur tidak bisa langsung masuk persediaan normal. Ia harus dicatat sebagai persediaan terpisah atau langsung di-write off.


Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Apakah retur penjualan harus selalu dibuatkan jurnal terpisah atau bisa langsung dikurangi dari penjualan?

Secara teknis akuntansi, retur harus dicatat melalui akun "Retur & Potongan Penjualan" — bukan langsung mengurangi akun Penjualan. Tujuannya agar manajemen bisa melihat total nilai retur secara terpisah sebagai informasi analitik. Namun untuk UMKM skala sangat kecil (di bawah Rp 500 juta per tahun), Pedoman Akuntansi UMKM IAI memperbolehkan pencatatan yang lebih disederhanakan selama konsisten diterapkan.

Bagaimana cara mencatat retur penjualan di toko online marketplace seperti Shopee atau Tokopedia?

Untuk toko online, dasar pencatatan tetap sama — jurnal retur dibuat berdasarkan tanggal refund yang dikonfirmasi marketplace, bukan tanggal klaim pelanggan. Bukti pencatatannya bisa berupa screenshot status refund atau laporan transaksi dari dashboard marketplace. Jika refund mengurangi saldo penjualan di dashboard marketplace sebelum ditransfer ke rekening Anda, pastikan pencatatan kas mencerminkan angka net yang diterima, bukan gross.

Berapa lama batas waktu penerbitan nota retur untuk keperluan PPN?

Berdasarkan PMK Nomor 65/PMK.03/2010, nota retur harus diterbitkan pada bulan yang sama dengan pengembalian barang terjadi. Jika melewati bulan tersebut, pengkreditan Pajak Masukan atas retur tersebut tidak dapat dilakukan.

Apakah barang retur yang rusak dan tidak bisa dijual kembali tetap harus dicatat ke persediaan?

Tidak. Barang rusak yang tidak memiliki nilai jual harus langsung dicatat sebagai kerugian — di-write off ke akun "Kerugian Persediaan Rusak" atau "Beban Susut Persediaan". Jika masih ada nilai jual meskipun di bawah HPP (misalnya bisa dijual sebagai "barang cacat diskon"), dicatat ke persediaan dengan nilai realisasi bersih (net realizable value) sesuai prinsip PSAK 14 tentang persediaan.

Apakah retur pembelian mengurangi HPP secara otomatis?

Ya, secara tidak langsung. Retur pembelian mengurangi pembelian bersih, dan pembelian bersih adalah komponen dari rumus HPP (Persediaan Awal + Pembelian Bersih − Persediaan Akhir). Jadi efeknya memang menurunkan HPP, yang berarti meningkatkan laba kotor — ini koreksi yang benar, bukan manipulasi angka.


Langkah Selanjutnya: Mulai Catat Retur dengan Benar Mulai Hari Ini

Retur bukan pengecualian di bisnis — ia adalah bagian normal dari siklus dagang. Yang membedakan bisnis yang tumbuh dengan sehat dari yang stagnasi adalah seberapa akurat mereka mencatat semua transaksi, termasuk yang terasa "merepotkan" seperti retur.

Tiga langkah prioritas yang bisa langsung Anda terapkan:

  1. Buat akun kontra terpisah — "Retur & Potongan Penjualan" dan "Retur & Potongan Pembelian" harus ada di chart of accounts Anda. Jangan gabungkan dengan akun Penjualan atau Beban.
  2. Selalu balik dua entri — Setiap retur penjualan harus membalik dua hal: pendapatan DAN persediaan/HPP. Satu entri saja = laporan yang salah.
  3. Siapkan template nota retur — Terutama jika Anda PKP. Nota retur yang tidak lengkap bisa membuat Anda kehilangan hak pengkreditan PPN.
  4. Rekonsiliasi retur dengan laporan marketplace — Setiap akhir bulan, cocokkan total nilai retur di pembukuan dengan laporan refund dari platform e-commerce Anda.
  5. Gunakan software yang otomatis membuat jurnal retur — Pencatatan manual memiliki error rate yang jauh lebih tinggi, terutama ketika volume transaksi meningkat.

Jika Anda ingin proses ini berjalan otomatis — termasuk jurnal retur yang langsung terbuat saat Anda input transaksi, tanpa harus hafal akun debit-kredit — coba gratis di FirstJournal. Dirancang khusus untuk UMKM Indonesia, dengan chart of accounts standar IAI dan dukungan laporan yang siap pakai.

Studi Kasus

Toko Fashion Online Siti, Bandung (3 karyawan, omzet Rp 1,2 miliar/tahun via Shopee & Tokopedia)

Tantangan: Retur tidak pernah dicatat secara akuntansi — hanya diproses refund di marketplace. Laporan laba rugi selalu menunjukkan margin lebih tinggi 5-7% dari kenyataan, membuat keputusan pricing salah.

Solusi: Migrasi ke sistem pembukuan terstruktur dengan akun kontra retur terpisah, rekonsiliasi bulanan dengan laporan marketplace, dan template nota retur untuk PKP.

↑ Hasil: Gross margin terhitung akurat, HPP realistis, dan retur bulanan senilai rata-rata Rp 7 juta tercatat penuh — mengungkap bahwa 3 kategori produk memiliki retur rate di atas 18% dan perlu dievaluasi.

Regulasi & Standar Akuntansi:

  • Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Pedoman Akuntansi UMKM. Jakarta: IAI, edisi terbaru. Mengatur standar pencatatan yang disederhanakan untuk usaha skala kecil-menengah.
  • IAI. PSAK 72: Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan. Jakarta: IAI. Mengatur pengakuan dan pembatalan pendapatan termasuk retur.
  • IAI. PSAK 14: Persediaan. Jakarta: IAI. Mengatur penilaian persediaan termasuk barang rusak dan net realizable value.
  • Kementerian Keuangan RI. PMK Nomor 65/PMK.03/2010 tentang Pengkreditan Pajak Masukan bagi Pengusaha Kena Pajak yang Melakukan Penyerahan yang Terutang Pajak dan Penyerahan yang Tidak Terutang Pajak — dan Pengembalian Barang Kena Pajak. Jakarta: Kemenkeu.

Data & Riset:

  • Katadata Insight Center. Laporan E-Commerce dan Ritel UMKM Indonesia 2023. Jakarta: Katadata, 2023.
  • Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Panduan Faktur Pajak dan Nota Retur untuk PKP. Jakarta: Kemenkeu.

Newsletter

Dapatkan insight bisnis setiap minggu

Tren ekonomi, tips akuntansi, dan regulasi terbaru — langsung ke inbox Anda.

Gratis. Berhenti kapan saja. Tidak ada spam.

Artikel Terkait

Software Akuntansi PSAK Compliant Indonesia: Apa yang Wajib Ada
Tutorial Akuntansi

Software Akuntansi PSAK Compliant Indonesia: Apa yang Wajib Ada

11 menit · 7 Juni 2026

Cara Buat Jurnal Akuntansi untuk Bisnis Jasa: Panduan Lengkap dari Transaksi sampai Neraca
Tutorial Akuntansi

Cara Buat Jurnal Akuntansi untuk Bisnis Jasa: Panduan Lengkap dari Transaksi sampai Neraca

11 menit · 2 Juni 2026

Cara Buat Laporan Neraca (Balance Sheet) UMKM: Panduan Langkah per Langkah dari Nol
Tutorial Akuntansi

Cara Buat Laporan Neraca (Balance Sheet) UMKM: Panduan Langkah per Langkah dari Nol

11 menit · 2 Juni 2026

← Kembali ke Blog