Setiap hari jutaan transaksi QRIS selesai dalam hitungan detik — tapi dana yang masuk rekening merchant baru muncul esok hari, atau bahkan dua hari kemudian. Celah waktu inilah yang membuat saldo buku tidak pernah cocok dengan saldo rekening, dan admin keuangan UMKM harus menebak-nebak mana yang salah.
Ini bukan masalah sepele. Ketika pembeli sudah scan dan notifikasi "Pembayaran Berhasil" sudah muncul di layar kasir, secara hukum transaksi sudah terjadi — tapi uangnya belum ada di rekening Anda. Kalau Anda mencatat langsung ke akun Kas Bank, buku Anda akan sesat. Kalau tidak dicatat sama sekali sampai dana masuk, pendapatan Anda tergeser ke hari yang salah.
Panduan ini menyelesaikan masalah itu: satu framework jurnal lengkap untuk pencatatan pembayaran QRIS, dari notifikasi masuk sampai settlement, termasuk perlakuan MDR (Merchant Discount Rate) yang sering dilupakan.
Jawaban Singkat

Untuk mencatat pembayaran QRIS di pembukuan, gunakan akun perantara bernama "Kas dalam Penyelesaian" (atau "Uang dalam Proses Transfer") — bukan langsung ke Kas Bank. Saat notifikasi pembayaran masuk, debit akun Kas dalam Penyelesaian dan kredit Pendapatan. Saat dana settlement tiba di rekening (H+1 atau H+2), pindahkan: debit Kas Bank dan kredit Kas dalam Penyelesaian, dikurangi potongan MDR yang dicatat sebagai Beban Administrasi Bank. FirstJournal menyediakan akun "Kas dalam Penyelesaian" secara default di Chart of Accounts-nya mulai plan gratis Rp 0/bulan, sehingga jurnal dua langkah ini bisa dilakukan tanpa setup manual.
Mengapa QRIS Tidak Bisa Dicatat Seperti Kas Tunai
Rata-rata waktu settlement QRIS ke rekening merchant di Indonesia
Pembayaran tunai sederhana: uang diterima, langsung masuk laci kas, langsung dicatat sebagai Kas. Transfer bank real-time (BI-FAST atau RTGS) pun relatif langsung. QRIS berbeda karena alurnya melewati beberapa lapis:
- Pembeli scan QR → dana didebit dari rekening/e-wallet pembeli
- Acquirer (bank atau PJSP penerbit QRIS merchant) menerima dana
- Acquirer melakukan settlement — mengirim dana bersih (setelah dipotong MDR) ke rekening merchant
Berdasarkan PBI No. 23/6/PBI/2021 tentang Penyedia Jasa Pembayaran, acquirer wajib menyelesaikan settlement paling lambat H+2 hari kerja dari tanggal transaksi. Artinya, secara akuntansi ada periode mengambang (float period) di mana transaksi sudah diakui secara ekonomi, tapi kas belum berpindah ke rekening merchant.
Secara prinsip akuntansi, PSAK 71 tentang Instrumen Keuangan mengatur bahwa aset keuangan diakui ketika entitas menjadi pihak dalam kontrak instrumen tersebut. Notifikasi "Pembayaran Berhasil" adalah bukti bahwa hak atas dana sudah timbul — maka pendapatan dan piutang terhadap acquirer harus diakui saat itu, bukan saat dana masuk rekening.
So what? Jika bisnis Anda menerima QRIS senilai Rp 5 juta pada 30 Desember tapi dana baru masuk 2 Januari, pendapatan itu tetap harus masuk laporan Desember — bukan Januari. Tanpa akun perantara yang tepat, laporan laba rugi bulanan Anda bisa mismatch dengan laporan arus kas, dan ini menjadi masalah nyata saat rekonsiliasi atau audit.
Mengenal Akun "Kas dalam Penyelesaian": Fondasi Jurnal QRIS
Akun Kas dalam Penyelesaian (atau beberapa perusahaan menyebutnya Uang dalam Proses Transfer, Kas Transit, atau dalam bahasa Inggris Cash in Transit) adalah akun aset lancar yang berfungsi sebagai tempat parkir sementara dana yang sudah diakui hak ekonominya tetapi belum secara fisik masuk ke rekening bank.
Posisi akun ini dalam Neraca:
| Klasifikasi | Nama Akun | Posisi Normal |
|---|---|---|
| Aset Lancar | Kas dan Setara Kas | Debit |
| Aset Lancar | Kas dalam Penyelesaian | Debit |
| Aset Lancar | Kas di Bank (BCA / BRI / dll) | Debit |
| Kewajiban Lancar | Utang Usaha | Kredit |
Akun Kas dalam Penyelesaian secara akuntansi adalah piutang kepada acquirer QRIS — Anda sudah memberikan barang/jasa, pembeli sudah membayar, tapi acquirer belum mentransfer dana ke Anda. Secara substansi ekonomi, ini setara dengan "piutang jangka sangat pendek" yang liquidasi-nya dalam 1-2 hari kerja.
So what? Memisahkan akun Kas dalam Penyelesaian dari Kas Bank bukan hanya soal kerapian buku — ini membuat rekonsiliasi bank bulanan Anda akurat. Saldo akun Kas dalam Penyelesaian di akhir bulan harus sama persis dengan total QRIS yang belum di-settle oleh acquirer. Kalau tidak sama, ada transaksi yang terlewat dicatat.
Jurnal Lengkap QRIS: Dari Notifikasi Sampai Settlement
Mari gunakan contoh bisnis konkret: Dapur Nusantara, warung makan di Yogyakarta dengan 4 karyawan dan omzet rata-rata Rp 800 juta per tahun. Dapur Nusantara menerima pembayaran QRIS via bank acquirer dengan MDR sebesar 0,3% (tarif MDR QRIS untuk merchant reguler berdasarkan kebijakan Bank Indonesia).
Skenario: Transaksi Selasa, 13 Mei 2025
Pelanggan membayar makan siang senilai Rp 150.000 via QRIS. Notifikasi masuk pukul 12.47. Dana settlement masuk rekening BCA Dapur Nusantara pada Rabu, 14 Mei 2025 pukul 09.00.
LANGKAH 1 — Saat Notifikasi Pembayaran Masuk (13 Mei 2025)
Ini adalah momen pengakuan pendapatan. Hak atas dana sudah timbul.
| Tanggal | Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|---|
| 13 Mei 2025 | Kas dalam Penyelesaian | Rp 150.000 | — |
| 13 Mei 2025 | Pendapatan Penjualan | — | Rp 150.000 |
Keterangan: Penerimaan pembayaran QRIS dari pelanggan — transaksi makan siang, belum settlement.
LANGKAH 2 — Saat Settlement Masuk ke Rekening (14 Mei 2025)
Dana yang masuk ke rekening adalah Rp 149.550 (setelah dipotong MDR 0,3% × Rp 150.000 = Rp 450).
| Tanggal | Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|---|
| 14 Mei 2025 | Kas di Bank (BCA) | Rp 149.550 | — |
| 14 Mei 2025 | Beban Administrasi Bank (MDR) | Rp 450 | — |
| 14 Mei 2025 | Kas dalam Penyelesaian | — | Rp 150.000 |
Keterangan: Settlement QRIS dari acquirer — net setelah MDR 0,3%.
Setelah dua entri ini, saldo Kas dalam Penyelesaian kembali ke nol untuk transaksi tersebut — persis seperti yang seharusnya.
Pendapatan QRIS diakui saat notifikasi masuk, bukan saat dana settlement tiba di rekening — dan selisih keduanya wajib "diparkir" di akun Kas dalam Penyelesaian agar buku tidak sesat.
Skenario Batch: Settlement Agregat Beberapa Transaksi
Dalam praktik nyata, acquirer sering mengirimkan satu transfer settlement yang merupakan gabungan puluhan atau ratusan transaksi sepanjang hari. Misalnya, Dapur Nusantara menerima QRIS di hari yang sama dari 3 transaksi:
| Transaksi | Nilai QRIS |
|---|---|
| Makan siang A | Rp 150.000 |
| Makan siang B | Rp 87.000 |
| Makan malam C | Rp 210.000 |
| Total | Rp 447.000 |
MDR 0,3% × Rp 447.000 = Rp 1.341. Settlement ke rekening: Rp 445.659.
Langkah 1 (13 Mei, 3 entri terpisah atau 1 entri batch):
| Tanggal | Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|---|
| 13 Mei 2025 | Kas dalam Penyelesaian | Rp 447.000 | — |
| 13 Mei 2025 | Pendapatan Penjualan | — | Rp 447.000 |
Langkah 2 (14 Mei, satu entri settlement):
| Tanggal | Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|---|
| 14 Mei 2025 | Kas di Bank (BCA) | Rp 445.659 | — |
| 14 Mei 2025 | Beban Administrasi Bank (MDR) | Rp 1.341 | — |
| 14 Mei 2025 | Kas dalam Penyelesaian | — | Rp 447.000 |
Perlakuan MDR dalam Pembukuan: Beban atau Pengurang Pendapatan?
Ini pertanyaan yang sering membingungkan. Dalam akuntansi UMKM Indonesia, ada dua pendekatan yang masing-masing valid:
Rekomendasi untuk UMKM: Gunakan Gross Method. Alasannya:
- Perpajakan lebih clean. Berdasarkan PMK Nomor 69/PMK.03/2022 tentang PPh atas penghasilan dari usaha dengan peredaran bruto tertentu (PPh Final UMKM 0,5%), dasar pengenaan pajak adalah peredaran bruto — artinya omzet kotor sebelum dikurangi biaya. Jika Anda mencatat net, ada risiko underreporting dasar pengenaan pajak yang bisa dipermasalahkan saat pemeriksaan.
- Analisis bisnis lebih akurat. Anda bisa melihat berapa total MDR yang Anda bayarkan per bulan — angka yang relevan untuk negosiasi dengan acquirer atau evaluasi apakah QRIS masih cost-effective.
- Sesuai prinsip PSAK 55/PSAK 71. Pengakuan pendapatan dan pengakuan biaya dipisahkan secara jelas.
So what? Untuk Dapur Nusantara dengan omzet Rp 800 juta per tahun — jika 60% dari transaksi via QRIS (Rp 480 juta), maka MDR 0,3% setara Rp 1,44 juta per tahun. Angka itu kecil, tapi kalau tidak dicatat dengan benar, laporan keuangan Anda tidak mencerminkan biaya operasional yang sesungguhnya.
estimasi total MDR QRIS per tahun untuk UMKM F&B dengan 60% transaksi digital dan omzet Rp 800 juta
Sumber: Kalkulasi FirstJournal berdasarkan tarif MDR 0,3% Bank Indonesia (2025)
Rekonsiliasi Akhir Bulan: Cara Cek Akun Kas dalam Penyelesaian
Di akhir setiap bulan, ikuti checklist ini untuk memastikan akun Kas dalam Penyelesaian bersaldo benar:
Langkah rekonsiliasi Kas dalam Penyelesaian:
- Cetak buku besar akun Kas dalam Penyelesaian untuk bulan berjalan.
- Hitung saldo akhir — idealnya mendekati nol jika semua settlement sudah masuk.
- Jika ada saldo sisa, cocokkan dengan laporan settlement acquirer: apakah ada QRIS yang belum di-settle per tanggal tutup buku?
- Misalnya: Transaksi 31 Mei (senilai Rp 320.000) baru settlement 2 Juni. Maka saldo Kas dalam Penyelesaian di 31 Mei adalah Rp 320.000 — ini benar dan seharusnya muncul di Neraca sebagai aset lancar.
- Cocokkan laporan settlement dari acquirer (bisa diunduh dari aplikasi merchant QRIS atau dashboard bank) dengan total entri Langkah 2 (settlement) yang tercatat di bulan tersebut.
So what? Rekonsiliasi ini biasanya memakan waktu 1–3 jam per bulan jika dilakukan manual. Dengan software yang mengintegrasikan data mutasi rekening langsung ke jurnal, waktu ini bisa dipangkas menjadi kurang dari 30 menit — dan error rate akibat input manual bisa ditekan signifikan.
Kesalahan Umum Pencatatan QRIS yang Wajib Dihindari
Berdasarkan pola yang sering ditemukan pada UMKM Indonesia dengan sistem pembukuan manual:
-
❌ Langsung kredit ke Kas Bank saat notifikasi masuk. Ini membuat saldo Kas Bank di buku lebih besar dari saldo aktual rekening, dan rekonsiliasi tidak akan pernah balance.
-
❌ Mencatat pendapatan saat settlement, bukan saat transaksi. Ini melanggar prinsip pengakuan pendapatan dan bisa menggeser periode pelaporan — krusial untuk pelaporan pajak bulanan.
-
❌ Mengabaikan MDR sama sekali. Jika tidak dicatat, total pendapatan kotor dan mutasi bank akan selalu berbeda sejumlah akumulasi MDR — biasanya dianggap "selisih misterius" yang tidak bisa dijelaskan.
-
❌ Mencampur akun Kas dalam Penyelesaian dengan Kas Kecil. Dua akun yang fungsinya sangat berbeda. Kas Kecil adalah dana fisik di tangan; Kas dalam Penyelesaian adalah piutang kepada acquirer.
-
❌ Tidak menyimpan laporan settlement dari acquirer. Berdasarkan ketentuan perpajakan Indonesia, dokumen sumber wajib disimpan minimal 5 tahun. Laporan settlement adalah dokumen sumber yang sah untuk setiap entri jurnal settlement QRIS Anda.
-
❌ Menggunakan tarif MDR yang salah. MDR QRIS bervariasi: 0% untuk merchant UMKM tertentu yang didaftarkan khusus (program Bank Indonesia), 0,3% untuk merchant reguler, dan tarif berbeda untuk transaksi dari kartu kredit via QRIS. Cek perjanjian merchant Anda.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apakah QRIS dari e-wallet (GoPay, OVO, Dana) dicatat sama dengan QRIS dari transfer bank?
Ya, dari sisi pembukuan merchant, perlakuannya identik. Baik pembeli bayar via GoPay, OVO, Dana, atau debit BCA — semua melewati sistem QRIS dan acquirer yang sama. Merchant hanya melihat satu notifikasi dan satu settlement. Akun Kas dalam Penyelesaian digunakan untuk semua sumber pembayaran QRIS tanpa perlu membedakan asal e-wallet pembeli.
Berapa tarif MDR QRIS yang berlaku saat ini dan siapa yang menanggung?
Berdasarkan kebijakan Bank Indonesia, tarif MDR QRIS untuk merchant reguler adalah 0,3% dari nilai transaksi. MDR ini sepenuhnya ditanggung oleh merchant (penerima pembayaran) — bukan pembeli. Untuk merchant UMKM yang terdaftar dalam program khusus Bank Indonesia, tarif bisa 0%. Cek status merchant Anda di dashboard acquirer atau hubungi bank penyedia QRIS Anda.
Bagaimana jika transaksi QRIS melewati akhir bulan — misalnya transaksi 31 Januari tapi settlement 2 Februari?
Catat transaksi di jurnal Langkah 1 pada 31 Januari (debit Kas dalam Penyelesaian, kredit Pendapatan). Jurnal Langkah 2 (settlement) baru dibuat pada 2 Februari saat dana masuk rekening. Di laporan keuangan Januari, pendapatan sudah diakui dan Kas dalam Penyelesaian muncul sebagai aset lancar di Neraca — ini sudah benar secara akuntansi akrual.
Apakah MDR QRIS bisa dikurangkan sebagai biaya dalam perhitungan pajak?
Untuk UMKM yang menggunakan PPh Final 0,5% (PP 23/2018 dan PMK 69/2022), pajak dihitung dari peredaran bruto — MDR tidak mengurangi dasar pengenaan pajak. Namun MDR tetap wajib dicatat sebagai beban di pembukuan untuk akurasi laporan keuangan internal. Untuk UMKM yang sudah menggunakan PPh normal (melewati threshold atau memilih keluar dari PPh Final), MDR adalah biaya deductible yang mengurangi penghasilan kena pajak.
Apakah pencatatan QRIS ini berlaku juga untuk EDC kartu debit/kredit?
Prinsip akun perantara berlaku sama — transaksi kartu debit/kredit juga memiliki lag settlement dan ada MDR. Namun nama akunnya bisa dibedakan: "Kas dalam Penyelesaian — QRIS" dan "Kas dalam Penyelesaian — EDC" jika volume transaksinya signifikan dan Anda ingin analisis biaya per channel pembayaran.
Action Items: Terapkan Hari Ini
Berikut langkah konkret yang bisa langsung dilakukan setelah membaca panduan ini:
-
Buat akun Kas dalam Penyelesaian di Chart of Accounts Anda (kelompok Aset Lancar, antara Kas Kecil dan Kas di Bank). Jika menggunakan software akuntansi, cek apakah akun ini sudah tersedia secara default.
-
Terapkan jurnal dua langkah mulai transaksi QRIS berikutnya: Langkah 1 saat notifikasi, Langkah 2 saat settlement masuk rekening.
-
Unduh laporan settlement harian dari aplikasi merchant atau dashboard bank acquirer Anda. Jadikan ini bagian dari SOP administrasi harian.
-
Verifikasi tarif MDR yang berlaku di akun merchant Anda — cek di perjanjian merchant atau hubungi acquirer. Pastikan akun Beban MDR atau Beban Administrasi Bank sudah ada di CoA Anda.
-
Lakukan rekonsiliasi Kas dalam Penyelesaian setiap akhir bulan — saldo akhir harus sama dengan total QRIS yang belum di-settle per tanggal tutup buku.
Jika Anda ingin proses ini berjalan otomatis — mulai dari pengakuan pendapatan QRIS, pencatatan MDR, hingga rekonsiliasi bank — coba gratis di FirstJournal. FirstJournal adalah software akuntansi pertama di Indonesia di mana AI mengeksekusi transaksi dari perintah teks natural, termasuk pengelolaan akun Kas dalam Penyelesaian secara otomatis tanpa setup manual, tersedia mulai dari plan gratis Rp 0/bulan.
Lebih dari 1.800 invoice telah diproses di FirstJournal sejak peluncuran di 2025, dari UMKM retail hingga bisnis F&B Indonesia — dan pencatatan QRIS dengan akun perantara adalah salah satu workflow paling sering digunakan penggunanya.
Regulasi & Standar Akuntansi:
- Bank Indonesia. PBI No. 23/6/PBI/2021 tentang Penyedia Jasa Pembayaran. Jakarta: Bank Indonesia, 2021.
- Bank Indonesia. Standar Nasional Open API Pembayaran — SEBI No. 22/7/PBI/2020. Jakarta: Bank Indonesia, 2020.
- Ikatan Akuntan Indonesia. PSAK 71: Instrumen Keuangan. Jakarta: IAI, 2017 (berlaku efektif 2020).
- Ikatan Akuntan Indonesia. PSAK 55: Instrumen Keuangan — Pengakuan dan Pengukuran. Jakarta: IAI.
- Kementerian Keuangan RI. PMK Nomor 69/PMK.03/2022 tentang PPh atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. Jakarta: Kemenkeu, 2022.
- Pemerintah RI. PP Nomor 23 Tahun 2018 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. Jakarta, 2018.
Data & Riset:
- Bank Indonesia. Kebijakan MDR QRIS untuk Merchant. Data tarif MDR berlaku per 2023–2025.
- Kalkulasi beban MDR dalam artikel ini merupakan ilustrasi berdasarkan tarif resmi Bank Indonesia 0,3% untuk merchant reguler.



