Punya 100 unit stok yang dibeli tiga kali dengan harga berbeda-beda — berapa harga pokok yang Anda catat saat 40 unit terjual hari ini? Jawaban Anda menentukan laba yang dilaporkan, nilai persediaan di neraca, dan bahkan pajak yang terutang. Bagi reseller marketplace atau toko online dengan lebih dari 50 SKU, memilih metode persediaan yang salah bisa membuat laporan keuangan Anda menyesatkan tanpa Anda sadari.
Dua Metode yang Diizinkan PSAK 14
PSAK 14 (Persediaan) — standar akuntansi Indonesia yang mengatur pencatatan inventaris — hanya mengizinkan dua metode penilaian persediaan: FIFO (First-In, First-Out) dan Weighted Average (rata-rata tertimbang). Satu hal penting yang sering luput: metode LIFO (Last-In, First-Out) secara eksplisit tidak diizinkan oleh PSAK 14. Ini berbeda dari standar akuntansi Amerika (US GAAP) yang masih mengizinkan LIFO — jadi jangan tergoda mengikuti tutorial akuntansi berbahasa Inggris yang merekomendasikan metode ini.
FIFO: Stok Pertama Masuk, Pertama Keluar
Metode FIFO mengasumsikan bahwa barang yang pertama dibeli adalah yang pertama dijual. Ketika Anda menjual 40 unit hari ini, HPP (Harga Pokok Penjualan) dihitung dari batch pembelian paling awal terlebih dahulu sampai terpenuhi 40 unit.
Weighted Average: Rata-Rata Semua Harga
Metode weighted average — atau rata-rata tertimbang — menghitung ulang harga pokok per unit setiap kali ada pembelian baru. Semua stok diperlakukan seolah-olah punya harga yang sama: rata-rata dari semua batch yang ada.
Simulasi Nyata: 100 Unit, 3 Batch, Harga Berbeda
Bayangkan Anda menjual sepatu sneakers di Tokopedia. Dalam satu bulan, Anda melakukan tiga kali pembelian, lalu menjual 70 unit.
Data Pembelian:
Penjualan: 70 unit pada akhir Maret (sisa stok: 30 unit)
Perhitungan FIFO
- Ambil dulu 30 unit dari Batch 1 → 30 × Rp 120.000 = Rp 3.600.000
- Ambil sisa 40 unit dari Batch 2 → 40 × Rp 135.000 =



