Pajak Marketplace Seller (Shopee, Tokopedia, TikTok Shop): Apa yang Wajib Lapor
Regulasi & Pajak

Pajak Marketplace Seller (Shopee, Tokopedia, TikTok Shop): Apa yang Wajib Lapor

Data transaksi seller sudah dilaporkan ke DJP. Pahami apa yang dipotong marketplace, kapan pakai PPh Final 0,5%, dan cara lapor pajak online seller.

FJFirstJournal Editorial·15 Mei 2026·8 menit baca
pajak shopee sellerpajak tokopediapajak tiktok shoppph marketplacelapor pajak online seller

FirstJournal

Akuntansi bisnis jadi lebih mudah.

Software accounting AI-first untuk UMKM Indonesia. Buku besar, faktur, laporan keuangan — semua dalam satu platform. Gratis selamanya.

Jualan di Shopee, Tokopedia, atau TikTok Shop bukan berarti penghasilan Anda luput dari radar DJP. Sejak marketplace diwajibkan jadi Penyedia Platform Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PPMSE), setiap transaksi seller dilaporkan ke sistem perpajakan DJP — artinya data omzet Anda sudah ada di tangan fiskus sebelum Anda lapor SPT.


Bagaimana Marketplace Melaporkan Data Seller ke DJP

Pajak Marketplace Seller (Shopee, Tokopedia, TikTok Shop): Apa yang Wajib Lapor

Berdasarkan PMK 210/2018 tentang Perlakuan Perpajakan atas Transaksi Perdagangan melalui Sistem Elektronik (e-Commerce), marketplace yang beroperasi di Indonesia wajib:

  1. Mengumpulkan data transaksi setiap seller aktif di platform mereka
  2. Melaporkan data tersebut ke DJP secara periodik — termasuk nama, NPWP (kalau ada), dan total nilai transaksi
  3. Memotong, menyetor, dan melaporkan pajak atas jasa yang marketplace kenakan ke seller (seperti biaya layanan/komisi)
PMK 210/2018 mewajibkan marketplace melaporkan data merchant ke DJP paling lambat tanggal 31 Januari tahun berikutnya. Kalau omzet Anda Rp 200 juta tahun lalu, DJP sudah tahu sebelum Anda lapor SPT Tahunan.

Yang perlu dipahami: marketplace tidak otomatis memotong PPh atas penghasilan penjualan Anda. Yang dipotong adalah PPh/PPN atas biaya jasa marketplace — bukan dari uang hasil jualan Anda. Seller tetap wajib hitung dan setor pajak atas penghasilan sendiri.

~12 juta

Seller aktif di marketplace Indonesia yang data transaksinya kini terpantau DJP (estimasi gabungan platform utama)


Apa yang Dipotong Marketplace, Apa yang Tidak

Yang Sudah Dipotong oleh Marketplace

Saat Anda membayar biaya layanan (service fee) atau komisi ke marketplace, di situ ada komponen pajak yang sudah dipotong:

  • PPN 11% atas service fee — misalnya komisi Shopee 2% dari nilai transaksi, PPN dihitung dari komisi tersebut
  • PPh Pasal 23 (2%) kalau marketplace memotong jasa tertentu yang memenuhi syarat

Contoh: Anda jual produk Rp 500.000, komisi platform 3% = Rp 15.000. PPN atas komisi = Rp 1.650. Ini yang sudah "selesai" dari sisi marketplace — bukan pajak atas Rp 500.000 penghasilan Anda.

Yang Masih Harus Seller Bayar Sendiri

Pajak atas penghasilan bersih dari penjualan adalah tanggung jawab seller 100%. Ini yang sering salah kaprah — seller mengira marketplace sudah "bayarin pajak" padahal yang dipotong hanya pajak atas komisi.

Kewajiban pajak seller yang harus diselesaikan sendiri:

  • PPh atas penghasilan usaha (bisa Final 0,5% atau tarif normal)
  • PPN jika omzet sudah melampaui Rp 4,8 miliar dan wajib jadi PKP

Kapan Seller Marketplace Bisa Pakai PPh Final 0,5%

PPh Final 0,5% adalah keringanan pajak paling relevan untuk seller marketplace — tapi ada batas waktu pemakaiannya yang banyak seller tidak tahu.

Berdasarkan PP 23/2018 jo. PP 55/2022, Wajib Pajak Orang Pribadi dengan omzet di bawah Rp 4,8 miliar per tahun boleh memilih menggunakan tarif PPh Final 0,5% dihitung dari omzet bruto. Ini jauh lebih sederhana dibanding menghitung laba bersih.

Syarat dan Batas Penggunaan PPh Final 0,5%

| Jenis WP | Batas Penggunaan PPh Final 0,5% | |---|---| | Orang Pribadi | 7 tahun pajak sejak terdaftar atau sejak PP berlaku | | Badan (PT/CV) | 3 tahun pajak (PT) / 4 tahun (CV/Firma) |

Setelah batas waktu habis, seller wajib beralih ke skema PPh Normal menggunakan tarif progresif berdasarkan laba bersih.

Simulasi Perhitungan PPh Final 0,5% untuk Seller Marketplace

Skenario: Bu Ratna, pemilik toko skincare di Tokopedia dan Shopee, omzet gabungan Rp 800 juta/tahun. Status: Orang Pribadi, belum PKP.

  1. Omzet bruto tahunan: Rp 800.000.000
  2. Tarif PPh Final: 0,5%
  3. Total PPh terutang setahun: Rp 800.000.000 × 0,5% = Rp 4.000.000
  4. PPh per bulan yang disetor: Rp 4.000.000 ÷ 12 = Rp 333.333/bulan

Setor tiap bulan paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya menggunakan kode billing PPh Final Pasal 4 ayat (2).

Bandingkan dengan tarif normal jika Bu Ratna tidak pakai PPh Final dan laba bersih diasumsikan 25% dari omzet:

  • Laba bersih: Rp 800 juta × 25% = Rp 200.000.000
  • Setelah PTKP (TK/0 = Rp 54 juta): PKP = Rp 146.000.000
  • PPh progresif: 5% × Rp 60 juta + 15% × Rp 86 juta = Rp 3.000.000 + Rp 12.900.000 = Rp 15.900.000

Dalam kasus ini, PPh Final 0,5% jauh lebih murah — tapi ini tidak selalu benar untuk semua seller. Seller dengan margin tipis (misalnya dropshipper dengan markup 5-10%) mungkin lebih hemat pakai tarif normal.

Pilihan PPh Final 0,5% bersifat opsional untuk Orang Pribadi — Anda boleh memilih tidak menggunakannya jika hitungan pajak normal lebih menguntungkan. Konsultasikan dengan konsultan pajak untuk kasus spesifik Anda.

Cara Lapor Pajak sebagai Online Seller: Step Praktis

1. Pastikan NPWP Aktif dan Terdaftar

Marketplace sudah mewajibkan NPWP untuk seller dengan transaksi tertentu. Jika belum punya, daftar via ereg.pajak.go.id.

2. Hitung dan Setor PPh Bulanan

  • Rekap omzet per bulan dari dashboard seller masing-masing platform
  • Buat kode billing di djponline.pajak.go.id dengan kode akun pajak 411128 (PPh Final Pasal 4 ayat 2)
  • Setor via bank/e-banking sebelum tanggal 15 bulan berikutnya

3. Lapor SPT Tahunan

SPT Tahunan Orang Pribadi (Formulir 1770 atau 1770 S) wajib dilaporkan paling lambat 31 Maret tahun berikutnya. Lampirkan rekapitulasi omzet marketplace sebagai bukti penghasilan.

4. Simpan Bukti Potong dan Rekap Transaksi

Unduh laporan transaksi dari dashboard Shopee Seller Center, Tokopedia Seller, atau TikTok Shop Seller Center setiap bulan. Ini dokumen kunci jika ada pemeriksaan pajak.


Kesalahan Umum Seller Marketplace soal Pajak

  • Salah kaprah: marketplace sudah bayar pajak saya. Tidak. Marketplace hanya memotong pajak atas komisi yang Anda bayar ke mereka — bukan pajak atas penghasilan Anda.
  • Tidak lapor karena merasa omzet kecil. UMKM dengan omzet di bawah Rp 500 juta per tahun mendapat pembebasan PPh berdasarkan PP 55/2022, tapi kewajiban lapor SPT tetap ada.
  • Lupa hitung omzet dari semua platform. DJP menerima data dari Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop secara terpisah — tapi SPT Anda harus melaporkan total omzet gabungan semua platform.
  • Melewati batas 7 tahun PPh Final tanpa sadar. Setelah masa berlaku habis, Anda wajib beralih ke tarif normal. Banyak seller tidak tracking ini dan kena sanksi.
  • Tidak pisah rekening usaha dan pribadi. Rekening campur menyulitkan rekonsiliasi dengan data yang DJP terima dari marketplace.

Action Items: Yang Harus Anda Lakukan Sekarang

  1. Cek status NPWP — pastikan aktif dan terdaftar di semua akun marketplace Anda
  2. Unduh laporan transaksi bulan ini dari tiap platform dan rekap totalnya
  3. Hitung omzet kumulatif tahun berjalan — apakah sudah melewati Rp 500 juta (batas pembebasan PPh) atau mendekati Rp 4,8 miliar (batas PKP)?
  4. Tentukan skema pajak: PPh Final 0,5% atau tarif normal — gunakan simulasi sederhana seperti di atas
  5. Set reminder tanggal 10 tiap bulan untuk rekap omzet, dan tanggal 15 untuk deadline setor pajak bulanan

Kalau ingin proses rekap omzet lintas marketplace dan kalkulasi PPh bulanan berjalan otomatis tanpa spreadsheet manual, software seperti FirstJournal bisa menarik data transaksi dan menghitung kewajiban pajak Anda secara real-time — termasuk notifikasi mendekati batas omzet PKP.

  • PMK 210/2018 tentang Perlakuan Perpajakan atas Transaksi Perdagangan melalui Sistem Elektronik (e-Commerce)
  • PP 23/2018 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu
  • PP 55/2022 tentang Penyesuaian Pengaturan di Bidang Pajak Penghasilan
  • UU HPP No. 7 Tahun 2021 (Harmonisasi Peraturan Perpajakan) — ketentuan PPN terbaru
  • Portal resmi DJP: pajak.go.id
  • Peraturan Menteri Keuangan terkait kewajiban PPMSE (Penyedia Platform Perdagangan Melalui Sistem Elektronik)

Newsletter

Dapatkan insight bisnis setiap minggu

Tren ekonomi, tips akuntansi, dan regulasi terbaru — langsung ke inbox Anda.

Gratis. Berhenti kapan saja. Tidak ada spam.

Artikel Terkait

PPN 11% vs 12%: Status Terbaru dan Dampaknya untuk UMKM 2026
Regulasi & Pajak

PPN 11% vs 12%: Status Terbaru dan Dampaknya untuk UMKM 2026

8 menit · 15 Mei 2026

PPh Final 0.5% UMKM: Siapa yang Boleh, Berlaku Sampai Kapan, dan Cara Bayar
Regulasi & Pajak

PPh Final 0.5% UMKM: Siapa yang Boleh, Berlaku Sampai Kapan, dan Cara Bayar

8 menit · 15 Mei 2026

PPh 21 TER 2026: Cara Hitung Pajak Karyawan Setelah PMK 168/2023
Regulasi & Pajak

PPh 21 TER 2026: Cara Hitung Pajak Karyawan Setelah PMK 168/2023

8 menit · 15 Mei 2026

← Kembali ke Blog